Harusnya
1 min read

Harusnya

Harusnya

Harusnya ada anak yang bisa menerima kasih sayang kedua orangtuanya saat ini.

Harusnya ada ayah yang bisa bermain bersama anaknya setelah lelah seharian bekerja.

Harusnya ada ibu yang harus bangun setiap pagi menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

Harusnya ada kakek dan nenek yang selalu semangat menceritakan kejadian di masa lalu.

Harusnya ada adik yang bisa meminta tolong kepada kakaknya ketika mainannya tersangkut di pohon.

Harusnya seseorang tidak perlu takut untuk pulang berkumpul dengan keluarganya.

Harusnya tidak ada yang namanya kekosongan stok oksigen saat pasien kritis sedang banyak di rumah sakit.

Harusnya tidak ada kabar duka setiap hari dikarenakan hal yang sama.

Harusnya tidak ada yang namanya warga negara ada yang kelapakan karena kehilangan pekerjaan.

Harusnya.

Tapi, tidak seharusnya yang terjadi.

Jaga diri. Jaga diri. Jaga diri.

Kecuali anda bisa membawa rumah sakit ke rumah anda.

Kecuali anda bisa membeli tabung oksigen yang dijual sampai Rp 3.000.000,- per tabungnya.

Kecuali anda bisa mendapatkan perawatan terbaik dengan sumber daya anda.

Kecuali anda memang terlalu bodoh untuk memahami ini semua.

Tapi, saya tidak menyalahkan anda.

Sejak awal pandemi kita dibuat bingung.

Covid tidak akan masuk Indonesia karena kita suka makan nasi kucing.

Karena suka minum susu kuda liar.

Karena perizinannya berbelit-belit.

Tapi, tidak apa.

Kita semua hanya menunggu undian untuk terkena Covid.

Saat itu terjadi.

Kita baru sama-sama bisa mengingat.

Ada beban darah manusia di tangan para pengambil kebijakan kita.