Tong Kosong Integritas
2 min read

Tong Kosong Integritas

Tong Kosong Integritas

Hari ke hari saya rasa sebagian masyarakat  akan selalu was-was. Covid-19 yang di awal tahun lalu hanya dianggap sebagai lakon srimulat oleh para pejabat, sepertinya tahun ini belum menunjukkan tanda-tanda akan menghilang.

Orang-orang terdekat saya, dan mungkin orang-orang terdekat anda sudah pernah terkena Covid. Baik yang selamat, maupun yang tidak.

Lucunya, di sebuah negeri di ujung sana. Masa kedaruratan. Masa pandemi. Masa orang-orang serba panik, selalu bisa saja masyarakat di negeri tersebut mencari keuntungan dari kemalangan orang lain.

Bansos di korupsi.

Oksigen di timbun.

Kartel dalam pemulsaran jenazah.

Rektor menjabat komisaris, setelah ramai naik di media, justru peraturannya yang diubah.

Dosen membuat pernyataan yang tidak berempati. Membanding-bandingkan angka kematian di negara maju dengan negaranya sendiri.

Sejak awal. Masyarakat di sana hanya dianggap angka-angka oleh orang yang nirempati. Sialnya, orang-orang yang nirempati mempunyai kekuasaan. Mempunyai pengaruh.

Jargon-jargon integritas hanya sebatas hiasan di dinding-dinding rumah. Tidak malu menampakan jargon tersebut meskipun prosesnya penuh kebohongan. Si pemilik modal berupaya sebisa mungkin agar tetap untung. Si pembuat kebijakan tidak punya keajegan dalam berbagai keputusannya. Si masyarakat yang telah jengah, bergerak di akar rumput, saling membantu satu sama lain. Ada juga yang saling menghancurkan satu sama lain.

Kurikulum anti korupsi mungkin hanya sekedar proyek bancakan agar paket meeting bisa dilakukan. Masyarakat negara tersebut, oknumnya banyak yang tidak tahu malu. Tapi, terlalu enak kalau disebut oknum.

Selama ini negara tersebut bersembunyi di balik kata oknum untuk menyembunyikan ketidakmampuannya. Oknum adalah sinonim kabur. Sistem yang sudah terbangun bisa dengan mudah membuang "baut" yang tidak diperlukannya dengan kata oknum.

Mandat diberikan oleh rakyat kepada para perwakilannya. Saat pemberi mandat membutuhkannya, para perwakilannya banyak yang lupa.

"Kelompokku lebih penting."

"Salah satu dari kami mati, dampaknya besar ke negara."

Empati sebatas tong kosong yang berlubang. Sudah tahu berlubang, tapi tidak malu untuk ditampilkan. Menambal lubang tersebut dengan kebohongan lainnya, sampai suatu saat nanti tidak ada lagi yang bisa ditambal. Mereka lupa pertanggungjawaban akan diminta oleh pemberi mandat.

Tapi, boro-boro mau meminta pertanggungjawaban. Masyarakat juga sedang teralihkan karena ada kasus salah satu anak konglomerat dengan istrinya tersandung Narkoba. Penyelesaian masalah selama ini adalah dengan menambahkan masalah baru, hingga masalah yang awal dilupakan dengan sendirinya.

Sudah terlalu banyak yang meninggal. Angka-angka tersebut mewakili bapak/ibu/anak/keluarga/saudara/tetangga/orang tersayang/pasangan dari tiap-tiap orang lainnya. Tapi, apa boleh dikata. Pilihan sudah dibuat. Konsekuensi harus diambil.

Tapi, tetap harus diingat.

Penagihan pertanggungjawaban akan dilakukan. Kematian yang terjadi menjadi beban darah pada pembuat keputusan. Kalau sadar.

Toh, kalau meninggal paling dukanya hanya seminggu. Setelah itu kembali ke kegiatan awal. Ada yang meninggal, tinggal melakukan copy paste ucapan duka saja dari pesan di atasnya.

"Turut berduka cita ya, semoga diberikan tempat terbaik."

Begitu terus sampai ratusan chat terjadi.

Kehilangan memang merupakan hal yang sangat individual. Tapi, yang selalu perlu diingat. Ada campur tangan kita semua dari berbagai duka yang terjadi pada orang lain.

Mungkin selama ini kita sudah menjadi pegawai yang baik, suami yang baik, istri yang baik, anak yang baik, orangtua yang baik, dan berbagai peran lainnya yang disematkan pada kita. Tapi, kita juga selalu harus ingat bahwa kita lebih dari peran-peran yang disematkan pada kita.

Ketika peran-peran tersebut dihapuskan dan diambil.

Lalu, kamu itu apa dan siapa?

Barisan tong kosong integritas nirempati?

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu
kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang meringis
tempat orang-orang mengikari
menahan ucapannya sendiri
tidurlah, kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan
nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan
solo sorogenen, 12 agustus 88
wiji thukul
buku: nyanyian akar rumput