Konsistensi Tukang Parkir
2 min read

Konsistensi Tukang Parkir

Konsistensi Tukang Parkir

Photo by Handi Sugihartian on Unsplash

Tukang Parkir di sebuah tempat makan yang sering saya datangi itu sangat konsisten. Robot pun kalah.

Sedari dua tahun lalu. Tukang parkir yang "menjaga" sebuah rumah makan cepat saji level menengah ini tidak pernah berganti. Selalu orang itu saja, dan selalu dengan alat pemutar musik yang dia putar kencang-kencang. Sampai terkadang menganggu yang sedang makan disana.

Tapi, seandainya menganggu tentu akan diperingatkan kan oleh pemilih rumah makan? Nyatanya dia tetap bertahan sejak dua tahun lalu.

Antara tidak diperingatkan, atau sudah diperingatkan tapi sang tukang parkir masa bodoh.

Terlepas hasil akhirnya. Sepanjang proses, saya akui tukang parkir tersebut sangat konsisten.

Konsistennya bagaimana?

Saat pengunjung akan mengambil kendaraannya untuk pulang. Tukang parkir itu sudah berada di samping kendaraan pengunjung tersebut. Melihat saja dengan senyumannya yang khas.

Saat diberikan 1000 atau 2000 rupiah (Lombok masih menerima pembayaran 1000 untuk parkir sepeda motor). Uang tersebut diambilnya dan kemudian dia kembali untuk duduk di kursi santainya. Tanpa memutarkan kendaraan. Tanpa membantu memberi jarak sepeda motor di samping motor kita. Tanpa membantu menyebrangkan jalan.

Dilakukannya setiap hari. Pagi sampai malam. Konsisten seperti itu. Tidak pernah ada perubahan.

Memang belum pernah ada pencurian kendaraan atau helm. Tapi, karena tidak mungkin juga. Lokasi parkirnya tepat di depan meja-meja makan pengunjung. Ada yang berani coba-coba, bisa-bisa bangun di kantor polisi.

Tapi, saya benar-benar kagum kepada tukang parkir tersebut. Selalu konsisten. Bahkan pengunjung pun jadi mengetahui apa yang akan mereka dapatkan dari membayar parkir tersebut. Tidak ada yang protes.

Tukang parkirnya adil dalam memberikan layanannya kepada siapapun. Tidak peduli kedekatan, tidak peduli asal plat nomor, tidak peduli warna kulit, ataupun suku.

Tetap ditariknya Rp 1.000 atau Rp 2.000 lalu ditinggalnya ke kursinya yang nyaman.

Tidak banyak orang yang bisa konsisten. Lebih banyak orang yang membuat aturannya sendiri-sendiri. Tetapi, penerapannya masih seenaknya dirinya sendiri. A mari kita beri tindakan disiplin. Lalu, apabila B melakukan yang sama, "hmm, sepertinya jangan nanti saya dipersulit apa-apa."

Lalu pada akhirnya.

Seluruh sistem akan dipenuhi oleh orang-orang yang antara hidup dan tak hidup saja sehari-harinya. Performa yang baik, ditabrakan ke ketidakadilan yang sistemik.

Melahirkan apa?

Melahirkan orang-orang medioker yang merasa tidak bisa disentuh oleh siapapun.