Lombok dan Ketersinggungannya
2 min read

Lombok dan Ketersinggungannya

Lombok dan Ketersinggungannya

Maret bulan depan menandai dua tahun saya bekerja dan berkembang di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Berkenalan dengan budaya baru, dengan orang-orang baru, dengan pedas khas sambel yang baru, dengan lampu lalu lintas yang bila belok kiri berarti itu langsung. Saya melihat Indonesia jauh lebih lengkap. Jauh dari hingar bingar pulau Jawa dan kenyamanannya.

Saya datang pertama kali di akhir bulan Maret dengan pesawat Lion Air yang merupakan penerbangan paling malam dari Jakarta. Saya baru selesai menyelesaikan Pelatihan Dasar Bela Negara di Rumpin Bogor waktu itu. Sampai di Bandara Lombok langsung disambut hujan deras dan dijemput oleh seorang rekan yang akan menjadi kakak saya secara usia, tapi adik saya secara angkatan kuliah.

Saya memang tidak pernah membayangkan akan berkesempatan bekerja dan tinggal di Lombok. Memang tidak mudah, tapi saya tahu pada akhirnya semuanya akan sebanding. Lombok tetap akan jadi pulau yang menyenangkan, baik dengan kesendiriannya maupun dengan dampingannya pada akhirnya.

Mayoritas gambar di bawah diambil menggunakan Fujifilm X-70. Harus direlakan untuk dilepas setelah menemani hampir 2 tahun di Lombok ketika masih sering sendirian. Tapi tidak apa. Bukan tentang alatnya. Selalu tentang siapa yang menjadi subjek yang menemani dalam pencarian fotonya.