Mati
2 min read

Mati

Mati

Duka setiap orang itu berbeda. Empati sebesar apapun belum tentu dapat mereplikasi duka yang dialami orang lain. Orang berduka hampir setiap detik. Kematian sering berburu waktu dengan detik jam tercepat sekalipun. Mau jam itu seharga Rolex, ataupun seharga jam dinding di sebuah toko kecil di persimpangan pasar dekat rumah. Kematian akan selalu mampu mengejarnya.

Tapi terkadang memang ada kematian yang lebih bisa dirasakan daripada kematian yang lainnya. 157.000 lebih orang meninggal di Indonesia karena pandemi Covid-19, angka sebesar itu mungkin kematian itu tidak terasa bagi sebagian orang. Tapi tidak untuk keluarga mereka masing-masing. Satu orang saja di data kematian tersebut bisa saja kepala keluarga yang memiliki istri dan anak. Satu orang saja di data kematian tersebut bisa saja seorang istri yang baru melahirkan bayinya. Covid membuat banyak orang menormalkan kematian.

Satu mati. Dua mati. Tiga mati. 157.000 lebih orang mati. Saya lebih suka menggunakan diksi “mati” ketimbang “meninggal”. “Meninggal” hanya membuat orang menyepelekan kematian.

Duka itu pribadi. Bukan untuk dibagi, maupun untuk direplikasi.

Untuk saya, kehilangannya Kang Ridwan Kamil atas Eril itu salah satu kematian yang bisa saya rasakan. Bisa jadi karena saya kuliah empat tahun di Bandung, kala itu beliau masih wali kota. Bisa jadi karena saya juga pernah bertemu secara langsung di berbagai kesempatan. Kota Bandung dengan segala ingatan baik dan buruknya tetap akan membekas sampai saya mati nanti.

Saya sekarang telah menjadi ayah, dan tidak bisa membayangkan rasanya kehilangan seorang anak. Anak saya panas saja, rasanya jantung ini berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Apalagi mengetahui bagaimana perasaan istri. Sejak dulu saya tidak suka naik pesawat atau kapal. Saya tidak suka berada dalam situasi dimana saya tidak punya kontrol akan hasilnya. Begitu pula dengan khawatir yang bisa menjadi duka. Saya sulit untuk membantu mengurai khawatir maupun duka istri saya. Terbaik yang bisa saya lakukan hanyalah terus mendampinginya.

Kepedulian yang berlebih dapat menjadi garam. Tahu kapan waktunya untuk cukup menjadi penting dalam pendampingan orang yang berduka. Kang Ridwan Kamil dan keluarga telah menjadi contoh baik beberapa waktu terakhir. Semoga sekeluarga bisa beristirahat untuk mengurai apa-apa yang sedang dirasakan.

Turut berduka cita untuk Eril.

Turut berduka cita untuk semua kematian yang pernah, yang sedang, dan yang akan dirasakan oleh semua manusia pada saatnya.