Memento Mori
2 min read

Memento Mori

Memento Mori

Kita hidup selalu untuk menyambut kematian. Anehnya, kematian dulu adalah topik yang mungkin paling saya hindari. Kematian itu menyeramkan dan terkesan tabu untuk dibahas. Tapi, akhir-akhir ini saya punya pandangan baru akan kematian. Pandangan baru akan kematian malah justru mempengaruhi saya dalam berbagai hal dalam kehidupan.

Memento mori, remember you must die.

Memento mori, ingatlah kamu akan mati.

Mengingat kematian itu penting. Mengingat bahwa tidak ada yang permanen, mampu membantu saya pribadi bahwa apa yang saya miliki sekarang bisa saja hilang besok.

Mengingat bahwa saya ini manusia. Mengingat bahwa saya punya kebutuhan dan saya juga punya peran untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Mengingat bahwa tidak apa untuk skeptis terhadap apapun yang terjadi sampai dibuktikan sebaliknya, atau sampai yang kita ragukan memang begitu kebenarannya.

Memento mori, remember you must die.

Memento mori, ingatlah kamu akan mati.

Saya skeptis tentang banyak hal.

Saya skeptis tentang aturan hukum, yang kadang bisa dibolak-balik dengan sebatas melalui arahan via telepon.

Saya skeptis dengan orang yang ahli berpendapat, tapi saya berkenan mengikuti pendapat ahli.

Akhir-akhir ini saya skeptis dengan diri sendiri. Skeptis akan integritas dan juga akan kompas moral. Saya skeptis sebuah sistem yang sudah terbangung kuat dengan beton cor tebal bisa diubah tanpa meruntuhkan bangunannya. Kalau hanya retak sedikit tidak masalah, kalau salah perhitungan pondasinya yang terganggu.

Memento mori, remember you must die.

Memento mori, ingatlah kamu akan mati.

Tugas ke depan akan jauh lebih berat. Harus dijalankan bersama-sama. Tapi, saat kebersamaannya dilepas satu persatu baik secara sukarela atau terpaksa. Yang tertinggal hanya yang peduli, atau sebenarnya yang belum beruntung untuk dilepas.

Banyak yang bisa dilakukan. Banyak yang belum dilakukan. Banyak yang harusnya bisa dilakukan. Banyak yang harusnya mungkin tidak dilakukan.

Tapi, ya sudah. Memang lebih baik fokus kepada hal-hal yang bisa kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Hasil akhirnya, serahkan kepada takdir.

Bukannya Epictetus sudah 2.000 tahun lalu pernah menyampaikan banyak hal yang tidak bisa kita kontrol. Tapi, saat yang tak terkontrol di luar itu terjadi, yang bisa kita lakukan adalah menyadaribahwa kita punya pilihan bagaimana cara kita untuk merespon hal-hal tersebut.

Fokus kepada kebajikan masing-masing. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang banyak. Selalu mindful akan siapa yang kita ajak bersosialisasi. Selalu mindful akan dimana kita menempatkan diri. Kita cenderung mengambil kebiasaan-kebiasaan dari dimana kita berada. Jaga diri.

Of on thing beware, o man: see what is the price at which you sell your will. If you do nothing else, do not sell your will cheap. Epictetus