🌱 Radit's Boredom in Disguise

Search

Search IconIcon to open search

Searching for a Reason to Write

Last updated Aug 20, 2022

The more I search for a reason to write, the more I lost. Sometimes, I feel like I write to impress, not to express.

I always consider myself as the quite kid in the backroom of the class, I hate spotlight, but i am happy if someone trust me with something. I love if someone depends on me. That’s why even in the beginning I was kinda sad to be accepted as a college student of Social Work.

But, after my graduation, and then some real work in the field of social services; I accepted my fate as a social worker. ‘to help people to help themself’ they say.

and that’s it. I completely got distracted from the main reason I write this note, and I realize this habit makes me never got any writing done, unless I hyper focusing to write on certain topic.

but the main problem is I already told you on the first paragraph. I tend to write to impress, not to express. This condition growing something worse in me. Growing the feeling of dissastisfaction of my own creation. The feeling of hating myself, and I do hate hating on myself.


Lebih banyak saya mencari alasan untuk menulis, semakin saya menjadi tersesat. Terkadang, saya merasa kalau saya menulis itu untuk mendapatkan pujian orang lain, bukan untuk mengeskpresikan apa yang saya pikir dan rasakan.

Saya selalu merasa bahwa saya adalah anak pendiam yang ada di pojokan kelas, saya tidak suka menjadi populer, tetapi saya suka bila seseorang mempercayakan sesuatu pada saya. Saya suka bila ada orang yang bergantung pada saya. Oleh karena itu saya sedikit sedih ketika saya diterima menjadi mahasiswa pekerjaan sosial (Lihat, Social Work).

Tapi setelah saya lulus, dan bekerja langsung di setting pelayanan sosial. Saya menerima takdir saya sebagai pekerja sosial. ‘Membantu orang untuk menolong dirinya sendiri’ katanya (Lihat, to help people to help themself)

dan begitu saja saya telah terdistraksi dari tujuan saya menulis catatan ini, kebiasaan ini yang membuat saya tidak bisa menyelesaikan tulisan apapun, kecuali saya benar-benar konsentrasi pada suatu topik.

Masalah utamanya kenapa saya sulit menulis sudah saya jabarkan di awal paragraf. Saya cenderung menulis untuk mendapatkan pujian, bukan untuk mengekspresikan. Kondisi ini yang membuat ada bibit jelek yang tumbuh di saya. Bibit perasaan yang membuat saya tidak puas dengan kreasi saya (Lihat, dissastisfaction of my own creation). Perasaan yang membuat saya membenci diri saya, dan saya tidak suka membenci diri saya sendiri.