Pertanyaan Socrates dalam Ketidakrasionalan Berpikir
6 min read

Pertanyaan Socrates dalam Ketidakrasionalan Berpikir

Pertanyaan Socrates dalam Ketidakrasionalan Berpikir

Pekerja sosial dalam melakukan intervensi selalu berangkat dari asumsi-asumsi yang mendasari. Kemampuan untuk memahami asumsi-asumsi yang ada dan mengkaitkannya dengan permasalahan klien adalah modal besar bagi pekerja sosial.

Pekerja sosial memiliki kerangka referensinya juga. Body of knowledge, body of skill, dan body of value lah yang membentuk seorang pekerja sosial. Saat kuliah selama satu semester penuh saya mempelajari tentang teori-teori pekerjaan sosial. Memang ada yang berasal bukan murni dari tokoh pekerja sosial, tapi tetap ada sangkut pautnya dalam penanganan pekerja sosial.

Lagipula, pekerja sosial bukan semacam superman yang segala sesuatunya dapat dikerjakan sendirian. Setelah bekerja di lapangan, saya baru menyadari betapa terkaitnya profesi ini dengan profesi lainnya. Melepas belenggu bahwa pekerja sosial merupakan tipe pahlawan yang muncul di siang bolong dan berharap mendapatkan predikat One Man Show.

Asumsi dalam Cognitive Behavior Theraphy

Cognitive Behavior Theraphy (CBT) mengeksplorasi keterkaitan antara pikiran, emosi, dan perilaku manusia. Terapi ini bersifat langsung, dengan kejelasan waktu pelaksanaan, dan terstruktur.

Asumsi dasarnya adalah emosi manusia dan perilakunya dipengaruhi oleh persepsi manusia akan suatu kejadian.

Bukan tentang kejadiannya, tapi cara manusia mengintepretasikannya yang menjadi penting.

Contohnya, seorang yang depresi akan dianggap memiliki pandangan yang negatif akan sebuah kejadian.

Contoh lainnya pada lokasi bencana gempa bumi. Individu yang mengalami gempa bumi sejak detik pertama, tentunya akan berbeda memandang gempa bumi susulan dibanding dengan individu yang baru datang pasca bencana. Bisa saja yang telah ada sejak awal gempa bumi akan jauh lebih panik, akan lebih tidak rasional cara berpikiranya dikarenakan pengalaman traumatiknya. Atau justru sebaliknya. Seseorang yang telah lama tinggal di daerah bencana, dapat lebih tenang ketika ada bencana-bencana susulan. Hal ini dapat membuat individu tersebut menyelepekan bencana yang terjadi.

CBT memiliki tujuan utama untuk membuat orang menjadi terapisnya sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara membantu klien memahami pola pikir dan perilakunya sendiri. Sembari membekali klien dengan alat untuk merubah pola pikir yang mal adaptif yang akan mempengaruhinya perilaku.

Berarti salah satu asumsi dari CBT ketidakrasionalan berpikir akan sangat berpengaruh pada perilaku manusia.

sumber

Pertanyaan Socrates untuk Mengurai Ketidakrasionalan Berpikir

Kita semua pasti pernah mengetahui secara langsung maupun dari orang lain terkait pola pikir individu yang terkadang tidak masuk akal.

Merasa bahwa pernyataan yang diberikan orang tersebut hanya berputar-putar saja. Seperti sedang berbicara dengan tembok bata yang sudah dibangun tinggi.

Kalau terus-terus seperti itu, bukan tidak mungkin pikiran kita pun akan menjadi tidak masuk akal.

Oleh karena itu, dalam CBT memiliki kaitan erat dengan sebuah teknik yang bernama pertanyaan socrates atau restrukturasi kognitif.

Socrates sendiri adalah seorang filsuf dari Yunani. Salah satu yang terhebat. Sejak mempelajari konsep-konsep Stoa, tidak jarang saya juga bersinggungan dengan pembelajaran dari Socrates.

Socrates juga terkenal dengan caranya membuktikan bahwa pola pikir orang lain termasuk logis atau tidak. Socrates sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan dari pernyataan orang lain, sampai akhirnya pernyataan yang keluar kontradiktif dengan pernyataan awalnya. Socrates membuat orang mempertanyakan kembali pernyataannya, dan membuat mereka membuat diri mereka salah sendiri.

Sebenarnya bukan kepada pembuktian kesalahannya yang dikejar Socrates. Pertanyaan Socrates membantu orang lain untuk menemukan kebenaran yang sejati, memperluas cara pikirnya, dan menantang asumsinya sendiri.

Berpikir selalu kita lakukan. Jauh lebih sering dari air yang jatuh dari sebuah air terjun. Bahkan sampai terkadang kita tidak sadar terdapat pemikiran tersebut.

Garis besarnya pertanyaan yang digunakan seperti ini.

Pertama, identifikasi pikiran yang akan kita tanyakan

Mari kita coba ambil contoh kasus seorang kepala keluarga yang tidak mau diajak ke pengungsian padahal ada anggota keluarganya yang rentan (bayi, lanjut usia). Kepala keluarga tersebut tidak mau pindah ke pengungsian karena merasa sudah pernah melewati gempa sebelumnya.

Jadi, kita identifikasi pikiran tersebut. Pikiran bahwa lebih aman di rumah bersama keluarganya daripada di pengungsian yang berada di lapangan terbuka.

Kepala Keluarga (KK)
Pekerja Sosial (PS)
PS : "Bapak, apa yang terjadi?"
KK: "Ini mas, saya tidak mau untuk pindah ke pengungsian. Saya dipaksa. Stres saya harus mengurus keluarga saya. Ditambah ini saya dipaksa ke pengungsian."
PS : "Baik pak, bukannya memang lebih aman di pengungsian ya pak?"
KK: "Rumah saya sudah berulang kali dihajar gempa, buktinya masih aman."

Setelah kita lakukan argumen apa yang akan kita tanyai, kemudian kita perlu menanyakan bukti. Kita tanyakan kenapa bapak tersebut bersikukuh untuk berada di rumah dalam kondisi tanggap darurat bencana gempa bumi.

PS : "Bapak yakin rumah ini aman? atas dasar apa ya pak kalau boleh tahu?"
KK: "Gempa 2015 kami aman. Gempa 2017 kami aman juga tinggal di rumah."
PS : "Baik pak, jadi menurut bapak pada gempa kali ini dan susulannya. Bapak juga akan aman di rumah ya?"
KK: "Betul."

Kedua, pastikan apakah pikiran tersebut sesederhana itu

Sering pada kondisi tertentu. Dimana emosi manusia sedang tinggi, pemikiran kita cenderung tidak rasional. Jadi, kita perlu mempertanyakan lagi pernyataan awal tersebut.

PS :"Bapak, meski rumah ini selamat saat gempa 2015 dan 2017, belum tentu rumah ini akan bertahan pada gempa kali ini."
KK: "Memang, tapi sejarah sudah membuktikan rumah ini aman."
PS : "Apabila memang benar aman sesuai asumsi bapak, apakah ada hal lain yang juga seharusnya dipikirkan pak? Terkait akses bantuan kebutuhan dasar, listrik, ataupun hal lainnya yang mungkin sulit bapak mendapati apabila berada di rumah yang jauh dari pengungsian?"
KK: "Saya belum pikir sampai sana sih mas. Saya tau rumah saya aman. Tapi, memang saat akses komunikasi terputus, jalan dipenuhi bangunan yang rusak, atau ada keadaan darurat akan lanjut usia atau bayi di rumah. Memang sedikit akan menyulitkan saya sepertinya."
PS: "Baik pak, kalau boleh tahu kenapa bapak yakin dengan keamanan rumah ini ketika terjadi gempa dan banyak hal yang akan terjadi kedepannya?"
KK: "Tidak ada sepertinya mas. Saya yakin saja rumah ini selamat."

Pada tahap ini kita semakin memperdalam pemikiran dari orang yang kita ajak bicara. Seringnya pernyataan orang tidak sesederhana yang disampaikannya. Kita pun sering membutuhkan orang lain untuk dapat memancing pertanyaan lanjutan dari pernyataan kita sendiri.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah atas dasar apa pemikiran tersebut bisa ada. Apakah dari feeling saja? atau ada bukti lain yang mensupport pernyataan tersebut.

Kalau kita lihat dari percakapan tersebut, si Kepala Keluarga (KK) mendasari pernyataan bahwa rumahnya aman dari pengalamannya. KK tidak menyebutkan ada pemeriksaan lanjutan akan kondisi rumahnya setelah gempa sebelumnya. Dia yakin berdasarkan pengalamannya saja.

Ketiga, lihat cara pandang lainnya

Setiap permasalahan yang dialami akan selalu muncul berbagai sisi untuk telaahannya. Dalam CBT tersendiri yang terpenting adalah bukan tentang kejadian, tapi tentang bagaimana manusia mengintepretasikan kejadikan tersebut.

PS : "Apa ada hal lain selain yang sudah bapak sebutkan tadi, melihat pilihan bapak untuk diam di rumah adalah pilihan terbaik?"
KK: "Ya, selain memang akan kesulitan akan penerimaan bantuan nanti. Sulit ketika ada anggota keluarga yang sakit. Kesulitan karena saya engga ada genset untuk listrik cadangan. Bahan makanan juga saya engga stok banyak karena engga pernah tahu akan terjadi gempa."
PS : "Baik pak, dengan hal yang bapak sebutkan itu akan menyulitkan bapak. Kenapa bapak tidak mengambil pilihan untuk berada di pengungsian?
KK : "Ya, sebelumnya saya percaya saja ke rumah saya. Tapi, memang ternyata ada hal lain yang sepertinya saya perlu pertimbangkan lagi."

Melihat segala sesuatu dari sudut pandang lainnya seringkali memberikan banyak manfaat. Apalagi bila kita bisa mengetahui dan memahami bahwa ada hal yang bisa dikontrol dan ada hal yang tidak bisa kita kontrol.

Keempat, lakukan probing terhadap konsekuensi dari pemikiran dan pernyataan

Setelah kita melihat sebuah pemikiran dari sudut pandang lainnya. Penting juga untuk melakukan probing kepada konsekuensi dari pemikiran awal dan pemikiran baru yang telah dilakukan.

PS :"Mari kita lihat pilihan bapak sebelumnya. Apabila bapak tetap bersikeras untuk tinggal di rumah. Apa ada konsekuensi yang akan bapak terima?"
KK:"Keluarga saya akan kesusahan, mas. Stok makanan akan habis. Bayi saya kemungkinan menangis karena gelap. Ibu saya yang sudah lanjut usia akan kesulitan beraktivitas. Keluarga saya bisa saja tidak selamat melalui bencana ini."
PS :"Baik pak, lalu kita punya pemikiran baru bahwa pindah ke pengungsian akan menjadi pilihan. Kira-kira apa yang akan terjadi apabila bapak pindah ke pengungsian?"
KK: "Kalau memang perbandingannya demikian. Bisa jadi akan jauh lebih muda di pengungsian. Stres saya tidak akan sebesar sekarang untuk mempersiapkan semuanya. Kebutuhan dasar InsyaAllah bisa dipenuhi disana, dibanding saya mengusahakan sendiri di rumah."

Hal lain yang perlu diperhatikan

Gambaran di atas hanya gambaran sederhanda daripada bagaimana menggunakan pertanyaan socrates dalam kerja di lapangan sebagai pekerja sosial. Tapi, tentu saja tidak akan semulus percakapan tersebut. Banyak hal yang akan mempengaruhinya.

Empati

Penunjukan empati akan menjadi modal sangat besar dalam penggunaan pertanyaan socrates. Karena memang dengan pertanyaan socrates bisa jadi kita menempatkan diri untuk berlagak bodoh dalam sebuah percakapan. Apabila tidak hati-hati, tentunya orang yang diajak bicara akan ada kemungkinan merasa tersinggung.

Menempatkan dirinya seperti orang yang tidak berpikir panjang, kalau tidak hati-hati dapat menjadi bumerang yang menyerang pekerja sosial itu sendiri.

Berempati berarti menempatkan diri di sepatu orang lain, merasakannya, memahami perasaannya, memahami kalutnya; tetapi tidak terbawa perasaan dalam sampai menganggap kita adalah orang lain tersebut.

Tetap perlu menempatkan batas-batas profesional dalam setiap penggunaan empati.

Akhirnya kita tetap harus percaya kepada diri kita sendiri. Kita bertugas di lapangan sudah bersiap membawa berbagai macam asumsi yang mungkin terjadi kepada orang lain. Tetapi, bukan berarti kita harus memaksa untuk orang lain sesuai dengan asumsi kita.

"Tidak semuanya hanya diselesaikan dengan kursi kosong." Kata seorang dosen yang saya hormati ketika menyindir kami para mahasiswanya yang hanya paham tentang penerapan teknik kursi kosong.

Lagipula, profesi ini adalah sebuah seni tersendiri.

Seni dimiliki oleh masing-masing pribadi. Petunjuk dan pedoman ada hanya untuk mengantar dan mengarahkan. Akhirnya, akan kembali ke diri kita sendiri mau kita bantu seperti apa orang lain.

Akhir kata.

Selamat menjalankan Ibadah di Bulan Ramadan. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan di sepanjang jalan kita.

Tabik!