Pindah
4 min read

Pindah

Pindah

Waktu menunjukkan pukul 01:53 WITA saat saya mulai menulis bagian ini. Tumben saya sulit tidur.

Saya baru selesai memasukan barang-barang saya ke kerdus rokok yang dibeli tadi siang. Sampai saat ini ada empat kerdus totalnya. Besok akan bertambah sepertinya. Semua saya masukan dari pakaian sampai koleksi buku-buku saya, yang ternyata beberapa memang belum saya baca. Kesibukan setahun kebelakang benar-benar menyita waktu membaca saya.

Atau, bisa jadi saya yang memang tidak memprioritaskan untuk hal itu.

Saat memeriksa di rak buku. Saya menemukan benda-benda yang sengaja saya simpan untuk menjadi pengingat sesuatu hal. Meskipun kadang kurang konsisten juga. Saat masih kuliah di Bandung, saya menyimpan tiket pesawat dan juga kereta setiap kali saya pulang ke rumah saya di Jawa Timur.

Ya, mau bagaimana lagi. Terkadang saya memang sulit mengingat beberapa hal. Atau, memang sengaja tidak mau mengingatnya.

Saya jadi ingat kalau saya tidak ingat nama-nama teman TK saya. SD, saya hanya ingat Rian dan Rivan. Mereka anak tukang becak yang menjadi teman dekat saya di kelas 6. Saya sering main PS di rumah mereka sepulang sekolah. Mereka juga sering bermain di rumah saya. Terakhir bertemu sepertinya saat SMA. Mereka masuk ke SMK yang cukup jauh dari SMA saya, sehingga jarang bertemu lagi.

Saya juga ingat waktu SD masih banyak kotak-kotak pertemanan yang dibuat. Saya hanya ingat ada the scorpion, lalu kotak pertemanan perempuan-perempuan (saya lupa namanya). Saya sendiri tidak mengasosiasikan diri ke kotak manapun.

Saat SD saya juga ingat ketika bermain bola. Saya yang sering didapuk menjadi bek, punya ritual khusus untuk bermain prima. Saya akan dengan sengaja melonggarkan tali sepatu. Berikut dengan sugesti, "kekuatan datanglah!". Sugesti tersebut membuat seberapapun lelahnya, saya merasa ada kekuatan baru datang untuk saya melakukan gerakan akrobatik lainnya.

SMP, saya rasa tidak ada kenangan yang spesial. Masa SMP saya dilalui dengan belajar. Mulai pukul 05.30 pagi sampai dengan pukul 08.00 malam. Dampak kelas akselerasi di SMP saya waktu itu. Jadinya saya memang tidak memiliki banyak kenangan khusus saat SMP.

Oh tunggu, saya ingat pernah ditolak masuk ke paduan suara SMP karena suara saya tidak termasuk kategori suara apapun (ini seriusan, senior saya yang mengatakan langsung).

Saya juga ingat saat tugas akhir kami diminta untuk mempraktikan tarian. Kelompok saya kebagian tarian salsa. Untuk memenuhi nilai bagus, kami pun menyewa pelatih salsa. Hahahaha. Saya jadi ingat latihannya tidak berjalan mulus. Tapi, hasil akhirnya lumayanlah tidak buruk-buruk amat.

Saya juga ingat saat ada rekreasi ke Bali. Kami yang masih berusia harusnya kelas delapan. Harus bersamaan dengan kelas sembilan untuk rekreasinya. Disini saya baru menyadari betapa tidak berkembangannya kemampuan sosialisasi kami karena kelas akselerasi. Belajar. Belajar. Belajar.

Tapi, saya juga jadi tahu. Bahwa usia SMP juga sudah rawan terkena pengaruh buruk. Pada waktu itu banyak kakak tingkat saya yang saat rekreasi diam-diam membawa dan meminum alkohol. Kami yang waktu itu masih polos-polosnya. Hanya bisa diam saja. Mau jadi whistle blower kok sepertinya cari mati.

Lalu masa SMA. Sepertinya masa ini paling menarik. Saya beruntung masuk di OSIS. Sempat maju untuk kontes pemilihan Ketua OSIS waktu kelas sebelas. Saya masih ingat ditanya oleh seorang guru. "Kalau Mas Bimo sebagai ketua, apakah bisa dispensasi bagi anggota osis dan juga anak ekstra lainnya dikurangi?".

Saya ingat saat pertanyaan itu semua mata melihat ke saya. Utamanya dari para kakak tingkat. Saya tahu mereka mau jawaban saya untuk berkata tidak. Saya pun lakukan demikian. Tapi, akhirnya saya pun kalah di kontes tersebut.

Ternyata menjadi populis tidak selamanya menguntungkan.

Saya juga masih ingat saat ada program kerja yang akan dilakukan. Kami sering menginap di sekolah. Tidur di ruang OSIS ataupun di masjid. Makan hampir bisa dipastikan dengan Nasi Bu Banjir yang dijual di dekat pasar lama. Harganya hanya Rp 10.000,- dengan porsi nasi segunung, telur dadar yang sudah dicampur banyak tepung, sambel yang saat menguleknya bercampur dengan keringat penjualnya yang menetes, dan juga ditemani kerupuk yang tidak ada tandingannya ketika lapar.

Lulus SMA pencarian kampus pun dimulai. SNMPTN gagal, SBMPTN gagal. Tapi, saya diterima di salah satu perguruan negeri di Surabaya, jurusan Manajemen Bisnis. Meskipun pada akhirnya saya berlabuh di Bandung. Alasannya sederhana. Karena yang di Bandung, saya diberikan beasiswa dari semester satu. Sebuah previlese yang tentu tidak akan saya sia-siakan. Sedari awal sampai lulus. Untuk keperluan kuliah di luar biaya pribadi, saya hanya membayar Rp 75.000,-

Kadang saya juga bingung murah hati sekali kampus saya ini. Saat ini pun biaya per semesternya untuk mandiri sepertinya tidak lebih dari Rp 2.000.000,-

Saat kuliah sampai akhir pun saya sebenarnya punya ketertarikan di intervensi makro, bukan mikro. Tapi, saat bekerja justru sebaliknya. Saya lebih tertarik ke analisa kebijakan, sempat diajarkan meski hanya satu semester. Tugas akhirnya kalau tidak salah saya mebuat policy paper terkait kebijakan pembubaran lokalisasi. Saya kedepankan prinsip dekriminalisasi terkait prostitusi. Tetapi, menjadi sebuah kegiatan yang lebih dikontrol. Tidak dibiarkan berkembang terpisah-pisah dengan modus-modusnya yang semakin canggih.

Siapa tahu suatu saat nanti saya bisa belajar lebih terfokus tentang kebijakan publik.

Sebenarnya saya menulis ini sembari membaca mengenai narative theraphy. Saya senang dengan prinsip-prinsip dari terapi ini, dan mencoba menerapkannya di tulisan ini. Memisahkan antara masalah saya, dan saya yang juga punya kehidupan lebih dari masalah itu.

Bisa juga saya menulis karena memang sedang ingin saja bernostalgia akan hal-hal yang dicapai di masa lalu.

Siapa yang tahu kan?

Ada sebuah tulisan yang saya simpan di tahun 2017. Sepertinya dari internet.

"Sometimes it seems you'll never move on.
You just have to learn to learn from your mistakes.
And then, forget about them.
Because living in the past won't fix anything,
and living in the past is, at times, destructive" -A.M.

02.43 WITA tulisan ini saya akhiri, semoga sehat selalu. Saya akan bersiap untuk pindah lagi.