Relasi Kuasa
3 min read

Relasi Kuasa

Relasi Kuasa
Pernah ditulis di jurnalbimo.wordpress.com pada Juni 2019.

Jadi begini.
Topik tentang relasi kuasa ini terus menerus terngiang di benak saya. Sejak tahun lalu saat ada kesempatan bekerja di SNPHAR (Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja) hasil kerjasama antara berbagai pihak. Saat itu pelaksanaan survei ini dinaungi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Pada saat seminar tentang survei ini. Salah satu pemateri menjelaskan tentang relasi kuasa. Tapi sebelum sama-sama belajar tentang relasi kuasa ini, saya tunjukkan kesimpulan dari SNPHAR yang dilaksanakan pada tahun 2018 kemarin.

Survei ini dilakukan di seluruh Indonesia pada waktu itu. Jadi ini merupakan gambaran tentang bagaimana kekerasan dirasakan oleh anak-anak kita di Indonesia. Saya outline hasilnya.

  • 2 dari 3 anak-anak dan remaja perempuan atau laki pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.
  • Jenis kekerasan cenderung tumpang tindih. Antara kekerasan fisik, kekerasan emosional dan kekerasan seksual.
  • 3 dari 4 anak-anak dan remaja yang pernah mengalami salah satu jenis kekerasan melaporkan bahwa pelaku kekerasan adalah teman sebayanya.

Cukup sedih kita melihat sedikit saja kesimpulan dari SNPHAR 2018 ini. Salah satu yang menjadi latar belakang anak-anak kita banyak yang mengalami kekerasan adalah relasi kuasa.

Ini ilustrasi sederhananya.

Relasi kuasa ini seringnya bersifat hierarkis. Relasi yang menciptakan kekuasaan satu pihak kepada pihak lainnya.

Pelaku selalu berkuasa atas korban. Korban punya kemungkinan menjadi pelaku, yang juga berkuasa atas korban lainnya. Begitu seterusnya, sampai ada di hierarki paling bawah. Biasanya apabila di dalam keluarga ada Istri dan Anak.

Istri dan anak berada di hierarki bawah. Konstruksi sosial budaya yang membuat mereka memiliki posisi seperti itu.

di Indonesia saja, dari beberapa daerah. Terdapat kesepakatan bersama bahwa posisi laki-laki, ada diatas perempuan. Meskipun laki-laki tidak bekerja, tidak punya penghasilan, kerjanya hanya tiduran. Tetap. Sesuai kesepakatan bersama, laki-laki adalah raja di dalam keluarga.

Relasi kuasa menempatkan laki-laki menjadi superordinat dari perempuan yang seringnya menjadi subordinatnya.

Pihak yang berada dalam posisi subordinat harus siap menerima perlakuan kekerasan yang mungkin dikenakan kepada mereka.

Relasi kuasa tidak selalu berdampak buruk. Tapi kemungkinan terjadinya abuse of power tinggi.

Sulitnya adalah kemungkinan budaya sekitar kita yang sudah mengiyakan kekuasaan yang disalahgunakan tersebut. Tidak ada sistem support yang bisa diajak berkonsultasi apabila ada penyalahgunaan kekuasaan. Kebiasaan untuk bungkam. Menjadi budaya bungkam yang berkembang pesat di masyarakat.

Budaya bungkam ini nanti saya coba sambung di tulisan selanjutnya.

Saya amati juga relasi kuasa ini sebenarnya dapat dibagi dua kategori lagi. Pertama, kategori relasi yang tidak sukarela. Biasanya terjadi pada relasi antara bos dan staffnya, dosen pembimbing dan mahasiswanya, orangtua dan anaknya. Ketetapannya sudah demikian, dan mungkin sulit untuk merubah kontrak relasi dalam relasi kuasa tipe pertama. Kedua, yang sukarela. Biasanya dapat dilihat dimana relasi berdasarkan kekaguman atau kesukaan. Sepasang kekasih, seorang individu yang menjadi fans seorang artis, relasi dalam kepanitiaan. Karena sukarela, terkadang lebih sulit menginformasikan kepada korban bahwa ada relasi kuasa yang tidak sehat di dalam kontrak relasinya.

Kontrak yang dari tadi saya sebutkan bukan berarti ada hitam di atas putih ya. Lebih kepada harapan seseorang yang ingin dicapai dalam relasi tersebut. Manfaatnya. Dan berbagai macam budaya yang ikut di dalam relasi tersebut.

Banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan. Bukan hanya tugas salah satu profesi. Butuh kerja bersama. Untuk preventif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap korban. Untuk mengurangi dampak buruk dari relasi kuasa yang disalahgunakan.

Hal kecil berdampak besar yang dapat kita lakukan adalah memperbaiki kontrak yang ada pada relasi-relasi yang telah kita miliki. Relasi positif perlu dibangun, tanpa terlalu memikirkan atribut sosial yang ada pada diri individu. Utamanya relasi yang bisa kita pengaruhi untuk ubah.

Maka dari itu saya pribadi membuat paksaan pada diri untuk jadi lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain. Alasan membuka silaturahmi dengan banyak orang. Salah satu alasannya ya ini, memperbaiki dan memulai kontrak dalam relasi yang baik sejak awal.

Relasi tanpa kontrak babibu.

Relasi yang mutualisme.

Relasi dengan harapan rasional antar individu.