Tugas Bersama
3 min read

Tugas Bersama

Tugas Bersama
"Kenapa waktu itu tidak bapak daftarkan untuk SMA pak?" Saya bertanya kepada Ayah dari salah satu klien. Saya tanyakan saat sedang bersama mendampingi sidang kasus anaknya di pengadilan.
"Karena waktu itu awal Covid pak. Katanya ada lockdown. Saya engga mau keluarin uang. Takut nanti ada kebutuhan lainnya." Jawab si Ayah dengan jelas.
"Lah, kok bisa berpikir demikian?" Saya cepat menimpali. Tapi, kemudian saya diam sendiri.

Sebuah kutipan di poster pengadilan tersebut kemudian menggelitik saya. Tell a lie ONCE and all your TRUTH become questionable. Katakan kebohongan sekali saja, dan semua kebenaran yang pernah disampaikan akan dipertanyakan. Pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat.

Komunikasi publik kita payah. Kita ini berarti saya juga.

Saya pun apabila punya rekan yang dalam berkomunikasinya tidak jelas. Saya pun sudah pasti akan meninggalkannya. Tidak jelas dalam artian berputar-putar. Tidak konsisten. Mencla-mencle. Untuk apa didengar.

Hal ini juga yang membuat di beberapa negara maju, penguasaan media menjadi prioritas utama. Tapi, hal ini semakin kemari semakin sulit. Sosial media berkembang pesat. Informasi yang tidak ajeg akan bergerak seperti bola panas di lapangan. Lagi pula, tidak semua masyarakat punya previlese untuk mendapatkan akses akan informasi.

Tidak tahu kenapa, tapi hal ini menggangu pikiran saya beberapa waktu ini. Seakan optimisme bahwa masyarakat pasti akan mendengar apa yang disampaikan. Pesan disampaikan. Turun ke masyarakat melalui beberapa cara. Sampai ke masyarakat bisa jadi pesan utamanya sudah berubah.

Kita semua pernah bermain penyampaian pesan dari barisan belakang ke depan kan? Ya seperti itu.

Ditambahkan bumbu-bumbu, dikurangi bahan baku utamanya. Hal ini saya yakin sudah bisa diprediksi dari penyampai pesan.

Tapi, kok ya bagaimana ya?

Ini kesalahan kita bersama. Tidak bisa menunjuk hanya satu orang untuk bertanggung jawab. Kesalahan kolektif yang dipertontonkan secara kolosal.

Beberapa waktu lalu. Ada dua pernikahan yang dilangsungkan. Pernikahan pertama dibubarkan. Sempat viral video pembubarannya. Sang pengampu acara dimarahi besar-besaran. Diminta menghentikan kegiatan rangkaian pernikahan tersebut.

Sedangkan, pernikahan kedua berjalan lancar. Dilangsungkan megah. Didatangi tokoh-tokoh penting.

Perbedaannya didasari karena menggunakan protokol kesehatan ketat.
Tapi, mau seberapa naif kita mempercayai bahwa masyarakat akan bisa menyerap hal itu. Terlalu sombong mengira bahwa masyarakat akan melakukan analisa faktor-faktor lain di balik peristiwa tersebut.

Yang pasti akan dipikirkan masyarakat adalah, "Boleh melakukan pernikahan, asal punya duit banyak. Bisa menyewa gedung luas, bisa menyiapkan sarana prasarana yang terbaik."

Narasi bahwa boleh jadi masyarakat asal jangan miskin menjadi-jadi di lapangan.

Lalu, kita lihat India. Saya cukup banyak membaca kenapa bisa terjadi lonjakan sampai disebut menjadi tsunami Covid-19. Salah satu penyebabnya karena ada sebuah perayaan besar yang diaamiinkan oleh negara. Tokoh penting juga turut hadir pada kegiatan tersebut. Di beberapa media luar saya baca apabila tidak dilakukan, bisa jadi petahana takut kehilangan suara rakyat.

Akibatnya bisa dirasakan. Tsunami Covid terjadi. Banyak foto dan video yang mengerikan. Masyarakat kehabisan suplai oksigen. Sampai-sampai harus berebut. Banyak dokter menangis karena tidak bisa menyelamatkan pasiennya. Banyak keluarga yang membawa keluarganya yang sudah meninggal dengan motor, dengan cara dipepet di tengah. Angka kematian tinggi. Video pembakaran mayat secara masal juga sempat viral.

Berantakan. Negara yang waktu itu mengklaim sudah bisa mengatasi Covid. Tercerai berai.

Jangan sampai itu terjadi di tempat lainnya di Bumi.

Lalu, beberapa hari kemarin gelombang mudik meningkat. Sempat terjadi beberapa perubahan kebijakan di tingkat lokal. Ada yang A, ada yang B. Tidak satu suara. Rakyat yang rugi. Rakyat dibuat bingung. Apabila nanti ada kebijakan baru disampaikan, belum tentu juga rakyat bisa mendapatkan informasi tersebut.

Akhirnya penyekatan dilakukan. Masyarakat yang memaksa mudik diputar balik. Tapi, masyarakat melawan. Warga lokal banyak membantu pemudik dengan menunjukkan jalan tikus yang dilalui. Banyak titik penyekatan yang juga diterobos.

Hal ini direkam. Dipertontonkan. Dilihat oleh warga masyarakat yang lain. Bahkan sampai ada group Facebook untuk mudik bersama. Hal ini menginspirasi banyak orang lainnya untuk melakukan hal serupa.

Hal itu menginspirasi saya juga. Saya ingin apabila diberi kesempatan untuk belajar lagi tentang kebijakan publik. Sempat terbahas di saat Diploma-IV, tetapi hanya satu semester.

Covid belum selesai. Selagi bisa mari perketat pencegahan penularan dari diri sendiri. Ingat, kita mungkin menjadi bagian dari yang tidak bisa mendapatkan perawatan terbaik apabila yang terburuk terjadi. Jangan merasa tinggi, sampai lupa kalau masih ada tanah yang harus dipijak. Jangan lupa sarana prasarana belum memadai di fasilitas kesehatan tertentu.

Tidak semua daerah itu Jawa. Bersyukur disadarkan seperti ini karena pekerjaan saya sekarang.

Lindungi orang tersayang, beri edukasi kepada yang lain bila mampu. Bila masih mau mendengarkan. Kita sendirian menghadapi ini semua.

Terima kasih untuk semua tenaga kesehatan yang telah berjuang. Terima kasih tidak terkira untuk tenaga kesehatan yang harus kehilangan nyawanya karena Covid.

Ini semua salah kita bersama.

Saya minta maaf.